Sosial Media

twiiter

youtube

instagram

Friday, 17 June 2016 15:45

5 Daerah Rawan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkotika

5 Daerah Rawan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkotika gambarterbaru.com

Oleh: Husni Mahendra Pratama

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki posisi geografis yang unik sekaligus menjadikannya negara yang strategis. Dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa, menjadikan indonesia sebagai pasar potensial bagi peredaran gelap narkotika.

Hal ini di perkuat dengan semakin meningkatnya jumlah penyalahguna narkotika di Indonesia, yang saat ini sudah mencapai 4 juta orang.

Selain itu semakin beragamnya modus –modus penyelundupan narkotika di indonesia, seperti baru – baru ini terdapatnya pengungkapan kasus oleh badan narkotika nasional yang merupakan penyelundupan narkotika jenis sabu, dengan modus di sembunyikan di dalam pipa baja. Membuat kita semakin bertanya – tanya sudah sejauh mana peredaran narkotika di indonesia, apakah narkotika di indonesia hanya terdapat pada kota – kota besar.

Dalam perkembangannya peredaran narkotika di indonesia tidak hanya berada di kota – kota besar saja, melainkan sudah mencapai daerah – daerah seluruh indonesia.

Menurut hasil Penelitian yang dilakukan  Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2014 terdapat 5 daerah yang memiliki angka prevalensi penyalahguna narkotika  tertinggi, daerah tersebut dapat dikategorikan daerah yang rawan akan peredaran gelap narkotika adalah :

1. DKI Jakarta

DKI Jakarta merupakan provinsi paling rawan dalam peredaran narkotika. Angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Jakarta dari tahun ke tahun merupakan paling tinggi. Pada tahun 2008, angka prevalensi DKI mencapai 4,1 persen dari 6,98 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun. Sedangkan pada tahun 2011, angka prevalensi DKI melonjak drastis menjadi 7,01 persen dari sekitar 8 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun. Dan di Tahun 2014, angka prevalensi DKI 4,74 persen dari total 7,6 juta penduduk berusia 10-55 tahun, meskipun turun tetapi DKI tetap berada pada tingkat teratas peredaran narkotika.

2. Kalimantan Timur

Kalimantan Timur merupakan provinsi yang memperoleh peringkat ke dua paling rawan dalam peredaran narkotika. Angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Kalimantan Timur pada tahun 2014  mencapai 3,07 persen dari total 1,93 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun, yang sebelumnya pada tahun 2008, daerah yang memperoleh peringkat ke dua paling rawan dalam peredaran narkotika merupakan DI Yogyakarta dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 2,72 persen dari total 2,53 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun, sedangkan pada tahun 2011, Kepulauan Riau dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 4,26 persen dari total 1,31 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun.

3. Sumatera Utara

Sumatera Utara merupakan provinsi yang memperoleh peringkat ke tiga paling rawan dalam peredaran narkotika. Angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Sumatera Utara pada tahun 2014 mencapai 3,06 persen dari total 9,8 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun, yang sebelumnya pada tahun 2008, daerah yang memperoleh peringkat ke tiga paling rawan dalam peredaran narkotika merupakan Maluku dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 2,61 persen dari total 968 ribu penduduk yang berusia 10-59 tahun, sedangkan pada tahun 2011, Kalimantan Timur dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 3,10 persen dari total 2,79 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun.

4. Kepulauan Riau

Kepulauan Riau merupakan provinsi yang memperoleh peringkat ke empat paling rawan dalam peredaran narkotika. Angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Kepulauan Riau pada tahun 2014 mencapai 2,94 persen dari total 1,42 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun, yang sebelumnya pada tahun 2008, daerah yang memperoleh peringkat ke empat paling rawan dalam peredaran narkotika merupakan Maluku Utara dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 2,27 persen dari total 689 ribu penduduk yang berusia 10-59 tahun, sedangkan pada tahun 2011, Sumatera Utara dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 3,01 persen dari total 10,07 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun.

5. DI Yogyakarta

DI Yogyakarta merupakan provinsi yang memperoleh peringkat ke lima paling rawan dalam peredaran narkotika. Angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di DI Yogyakarta pada tahun 2014 mencapai 2,37 persen dari total 2,62 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun dan pada tahun 2011 mencapai 2,84 persen dari total 2,95 juta penduduk yang berusia 10-59 tahun, yang sebelumnya pada tahun 2008, daerah yang memperoleh peringkat ke lima paling rawan dalam peredaran narkotika merupakan Gorontalo dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 2,15 persen dari total 666 ribu penduduk yang berusia 10-59 tahun.

Dari data tersebut kita dapat mengetahui bahwa penyebaran penyalahgunaan narkotika di Indonesia tidak hanya berada pada mayoritas penduduk yang terdapat di pulau Jawa melainkan sudah mencapai seluruh kawasan Indonesia.

Dan dari tahun ke tahun angka pervalensi penyalahgunaan narkotika terus meningkat jika terus di biarkan akan menjadi bom waktu kehancuran khususnya generasi muda Indonesia. Tidak salah jika dalam beberapa kesempatan Badan Narkotika Nasional menghimbau bahwa narkotika merupakan mesin penghancur suatu Negara. Karena efek yang di akibatkan dapat menghancurkan generasi muda Indonesia.

(Disunting dari berbagai sumber)

Read 20856 times
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…