Sosial Media

twiiter

youtube

instagram

Friday, 29 July 2016 15:45

Inilah Penyebab Mengapa Indonesia Menjadi Sasaran Peredaran Gelap Narkotika

Oleh: Oscar Umbu Siwa

 

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini Indonesia menjadi sasaran peredaran gelap narkotika oleh sindikat internasional. Hal ini terlihat dari peningkatan pengungkapan kasus penyelundupan narkoba oleh aparat penegak hukum. Seperti tak ada ujung narkoba terus mengalir masuk ke Indonesia. Peredaranya tidak hanya menyasar masyarakat yang ada di perkotaan, tetapi sudah merambah sampai pelosok negeri.

Diawal masa tugasnya Presiden Joko Widodo telah memperingatkan bahaya narkoba yang mengacam negeri dengan sebutan atau istilah “Darurat Narkoba”. Darurat narkoba yang  diperingatkan oleh Jokowi tentu saja bukan merupakan pencitraan. Ada fakta yang melatar belakangi hal itu. 

Sementara itu Kepala BNN, Komjen Budi Waseso dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa peredaran gelap narkoba tidak melulu masalah bisnis, tapi ditengarai ada upaya yang sistematis untuk merusak dan menghancurkan generasi muda bangsa Indonesia. Inilah yang perlu di waspadai oleh semua elemen bangsa ini.

Narkoba adalah mesin pembunuh yang paling ampuh dalam  merusak masa depan anak bangsa. Penyelundupan narkoba adalah perang modern yang tidak menggunakan pasukan dan senjata. Bahkan sindikat narkoba internasional menjadikan orang Indonesia sebagai kurir untuk menghancurkan negerasi muda bangsa. 

Berikut beberapa fakta yang menjadikan Indonesia sebagai sasaran peredaran gelap narkoba internasional:

Tingginya Jumlah Penyalahguna Narkoba

Prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia berdasarkan hasil survey BNN pada tahun 2015 adalah 2,18 persen atau setara dengan 4,2 juta jiwa. Dari jumlah 4,2 juta tersebut, 1,6 juta tercatat dalam tahap coba pakai, 1,4 juta orang pemakai teratur, dan 943 ribu orang merupakan pecandu narkotika (pengguna tetap).

Pada kasus ini berlaku hukum ekonomi yakni dimana permintaan yang tinggi akan berpengaruh pada penawaran yang juga tinggi.

Penyalahguna narkotika berasal dari berbagai kalangan mulai dari pelajar, pekerja, hingga pengangguran. Pelajar penyalahguna narkotika tercatat sebanyak 27,32 persen, sementara jumlah pekerja yang memakai narkotika sebanyak  50,34 persen, dan 22,34 persen adalah pemakai narkotika dari kalangan yang tidak bekerja atau pengangguran.


Estimasi kebutuhan narkotika ilegal di Indonesia untuk narkotika jenis ganja 158 juta gram, Sabu 219 juta gram dan Ekstasi 14 juta butir. Inilah kemudian yang menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial peredaran gelap narkotika.

Dari data tersebut diatas, tak heran bila Indonesia menjadi sasaran empuk bagi pengedar narkotika sindikat internasional untuk memproduksi narkotika dalam jumlah yang besar untuk dijual di Indonesia.

Diperkirakan, sebanyak 12.044 orang per tahun mengkonsumsi narkoba dalam dosis berlebih, lebih dari satu jenis narkoba secara bersamaan, dan menggunakan narkoba setelah lama berhenti. Tercatat 33 orang per hari meninggal akibat dampak penyalahgunaan narkotika. (sumber: laporan akhir tahun BNN)

Pengawasan Jalur laut Yang Belum Maksimal

Berdasarkan laporan kepala Bea dan Cukai pada tahun 2015, penyelundupan narkotika melalui jalur udara makin menurun, yakni 48 kali. Sedangkan angka penyelundupan melalui jalur laut meningkat tajam, yaitu 59 kali. Ini mengindikasikan bahwa jalur laut menjadi primadona bagi sindikat internasional untuk menyelundupkan narokoba di Indonesia.

Jalur ini menjadi sangat rawan sebab pengawasannya lebih lemah dibandingkan jalur udara. Pelabuhan yang seringkali digunakan oleh sindikat adalah pelabuhan tikus atau yang sering kita kenal pelabuhan tradisional. Namun mereka sering kali masuk menggunakan pelabuhan resmi berskala internasional seperti pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya dan lain-lain.

Sebagai contoh, pada 14 Mei 2012, BNN menggagalkan upaya penyelundupan 1,4 juta butir esktasi milik bandar besar Fredy Budiman di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Yang paling menghebohkan adalah pengungkapan 840  kg Sabu di kawasan Lotte Mart, Taman Surya, Kalideres, Jakarta Barat. Kasus ini sekaligus menjadi tangkapan terbesar di Asia oleh BNN. Berdasarkan penelusuran BNN, barang haram tersebut masuk melalui pelabuhan Dadap, Tangerang. Buronan 7 (tujuh) negara bernama Wong Chi Ping akhirnya dilumpuhkan oleh BNN.

Kasus terbesar lainnya yang diungkap oleh BNN adalah penyitaan 100 kg Sabu yang disembunyikan dalam mesin genset di sebuah gudang milik CV Jepara Raya Internasional (JRI) di Dukuh Sorogen, Kecamatan Batealit, Jepara, Jawa Tengah. Berdasarkan penelusuran tim penyidik BNN, barang haram tersebut masuk melalui pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. 

Masyarakat Belum Sepenuhnya Peduli Terhadap Lingkungan Sekitar

Salah satu elemen penting dalam  Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) adalah masyarakat. Masyarakat harus memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan guna melindungi dirinya terutama generasi muda dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. 

Semakin tinggi kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap  narkoba, maka upaya penanggulangannya akan semakin mudah.

Peredaran gelap narkoba dapat diatasi apabila ada kerjasama yang baik antara aparat penegak hukum dengan masyarakat (terutama RT/RW). Namun seringkali sindikat atau bandar narkoba memilih lokasi atau tempat yang dianggap aman dan nyaman sebagai tempat tinggal untuk pengedarkan narkotika.

Dalam beberapa kasus masyarakat justru menghambat aparat penegak hukum ketika melakukan penangkapan bandar narkotika. Hal ini membuat bandar narkotika merasa dilindungi sehingga mereka leluasa melakukan aksi-aksinya.

Oleh karena itu, BNN pada setiap kesempatan meminta serta menghimbau masyarakat untuk ikut berpartisipasi melakukan upaya-upaya pencegahan di lingkungan masing-masing.

Bisnis Yang Sangat Menguntungkan

Indonesia yang kian menjadi surga peredaran gelap narkoba jaringan internasional patut mendapat perhatian semua pihak. Apalagi dengan pertumbuhan ekonomi yang kian membaik, maka tingkat permintaan pada barang haram narkotika juga akan makin meningkat. Dengan demand yang tinggi tersebut, sindikat internasional akan terus melakukan upaya yang lebih maksimal untuk menyelundupkan narkotika ke Indonesia.

Meskipun ancamannya adalah hukuman mati, namun sindikat tidak pernah surut untuk terus menjajah Indonesia dengan barang haram narkotika. Oleh karena itu harus ada upaya penindakan yang tegas serta dukungan semua pihak untuk melindungi masyarakat terutama generasi muda dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Pada awal tahun 2015 di Indonesia, pernah terjadi kenaikan harga sabu secara drastis. Kenaikan itu disebabkan karena hilang pasokan narkotika. Pasokan tersebut hilang karena BNN berhasil menangkap pengedar sabu terbesar Wong Chi Ping dengan jumlah barang bukti yang mencapai 862 kologram.

#stopnarkoba

Read 20947 times
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…