Sosial Media

twiiter

youtube

instagram

Thursday, 21 April 2016 16:12

Perang Perempuan Terhadap Narkoba

Perang Perempuan Terhadap Narkoba majalahkartini.co.id

Oleh: Cindy C.Wemay

Permasalahan Narkoba sekarang ini sudah semakin kompleks dan sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab seluruh lapisan bangsa Indonesia. Berdasarkan data perkiraan 2010, angka prevalensi penyalahguna narkoba sebesar 2,21 % atau setara dengan 3,8 juta jiwa. Yang kemudian pada bulan Juni tahun 2015 bertambah menjadi 4,2 juta jiwa dan berselang lima bulan kemudian angka tersebut berubah signifikan menjadi 5,9 juta jiwa.  Ini merupakan sebuah fakta yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia. Artinya kita semua tidak bisa lagi memandang remeh permasalahan narkotika yang semakin mengancam generasi penerus ini.

Sekarang ini, kita banyak melihat dan mendapatkan informasi dari media bahwa perempuan banyak yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba maupun perdagangan narkoba dengan menjadikan kaum perempuan sebagai kurir, hal ini menjelaskan pengalaman kekerasan yang dialami mereka juga ketika mereka harus tertangkap oleh petugas dan akhirnya ditindak secara hukum, yang akhirnya melemahkan kondisi fisik maupun sosial atas perbuatan yang mereka lakukan. Bahkan sering juga kita dengar bahwa wanita dalam keadaan hamil harus menjadi kurir narkoba demi mendapatkan sesuap nasi dan harus mendekam di penjara akibat hal yang digelutinya. Hal seperti inilah yang pada nantinya juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin yang jika harus sampai dilahirkan di rumah tahanan.

Hanya saja, sampai berapa lamakah hal seperti ini harus  terus terjadi pada kaum perempuan, menjadi “budak” narkoba.  Terlepas dari keterkaitan perempuan yang menjadi korban narkoba, tentu banyak juga kaum perempuan yang terus berjuang dan berperang terhadap penyalahgunaan narkoba. Menjadi pahlawan khususnya bagi kaum perempuan dan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk tidak lagi terpuruk karena jeratan narkoba, terlebih bagi kaum Ibu yang menjadi pahlawan dan ujung tombak di lingkungan keluarganya masing-masing dan menjadi salah satu pilar bangsa yang memiliki potensi kuat sebagai pelaku dalam rangka mengakselerasikan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), khususnya dalam bidang rehabilitasi. Peran perempuan sebagai ibu atau istri dan panutan keluarga sangat dibutuhkan dalam keberhasilan pencegahan dan rehabilitasi, karena kasih sayang seorang ibu/perempuan memiliki pengaruh yang luar biasa dalam upaya pemulihan.

Banyak tokoh-tokoh yang bisa kita lihat peduli dan gencar melawan narkoba, contohnya seperti Ibu Alfonsina yang tinggal di Kompleks Permata, Kampung Ambon. Walaupun tinggal di daerah yang lingkungannya disebut sebagai kampung rawan narkoba, tetapi beliau tidak takut dan gencar memerangi narkoba. Beliau berani melawan oknum aparat yang banyak “berbelanja” barang haram tersebut dan melaporkan kepada pihak yang berwenang (http://www.lensaindonesia.com/2013/03/25/kisah-perempuan-yang-melawan-narkoba-di-kampung-ambon.html)

Selain itu, di luar negeri salah satu contoh, dapat kita temui perempuan yang tidak takut untuk berperang melawan bandar-bandar narkoba bahkan hingga harus meregang nyawa adalah Maria Santos Gorrostieta . Gorrostieta dijuluki sebagai pahlawan abad ke-21 atas keberaniannya. Ia terpilih menjadi Walikota Tiquicheo, sebuah distrik pedesaan di Michoacan, sebelah barat Mexico City pada tahun 2008. Ia memutuskan untuk memerangi narkoba, yang mengubah Meksiko menjadi negara berbahaya.

Selain itu, Ia juga sangat mendukung hak-hak perempuan, yang berlawanan dengan norma-norma sosial di Meksiko. Keputusannya untuk berperang melawan tindak kejahatan mafia narkoba di Meksiko tersebut mendapat perlawanan yang tidak main-main. Bahkan serangan untuk menghabisi nyawa sang Walikota tersebut terus dilakukan. Usaha pembunuhan yang dilakukan pada bulan Oktober tahun 2009 yang menewaskan suaminya, kemudian tiga bulan setelah itu gerombolan bersenjata memberondong 30 peluru ke mobilnya. Tiga di antaranya menembus tubuh Gorrostieta dan meninggalkan sejumlah bekas luka, hingga akhirnya Gorrostieta harus meregang nyawa setelah Ia disergap dan disiksa secara fisik oleh geng narkoba yang merajalela di Meksiko. Dengan segala ancaman dibalik perlawanannya terhadap geng narkoba, Gorrostieta kembali mengutamakan pertumbuhan hidup anak-anaknya tanpa narkoba dan mendidik mereka untuk menjadi generasi yang sehat dan menjadi teladan bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara (http://news.liputan6.com/read/459578/lawan-geng-narkoba-eks-walikota-perempuan-dihabisi).

Di Indonesia sendiri selain aksi heroik yang dilakukan oleh salah satu Ibu di Kompleks Permata, Kampung Ambon juga masih banyak kepedulian yang diberikan kaum perempuan dalam mencegah penyalahgunaan narkoba, baik itu terlibat dalam kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan oleh Ibu-Ibu Dharma Wanita atau PKK dan kegiatan sosial lainnya yang dituangkan dalam program-program kerjanya.

Salah satu tokoh perempuan yang sudah mendunia dalam perjuangannya serta menyuarakan pesan anti narkoba di negara ini adalah Veronica Colondam. Bersama organisasi Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), Ia secara rutin melakukan kegiatan pencegahan penyalahgunaan narkoba kepada anak-anak remaja, Veronica dan YCAB telah mengedukasi jutaan anak berusia 12-19 tahun mulai dari Sabang sampai Merauke.

Wanita yang akrab disapa Vera ini bukanlah wanita karir pada umumnya. Dia adalah seorang wanita Indonesia yang mengambil langkah luar biasa dengan berkarir sebagai seorang pengusaha sekaligus dalam dunia sosial. Keputusannya terjun dalam dunia sosial, berawal dari rasa takut dan khawatir sebagai seorang ibu yang sadar akan pergaulan bebas di kalangan remaja dimana, selalu menjurus kepada hal-hal negatif seperti narkotika. Tak hanya khawatir dengan “tren” narkoba yang juga bisa mempengaruhi buah hatinya, dia juga cemas akan masa depan generasi muda Indonesia yang masih terkungkung dalam lingkup narkoba.

Sebagai ibu dari tiga orang anak, Veronica memiliki rasa kepedulian tinggi akan nasib anak-anak Indonesia yang kurang beruntung. Awalnya ia membantu lebih dari 20.000 keluarga dan pada saat yang sama membantu 25.000 anak-anak untuk kembali ke bangku sekolah. Ternyata ia belum merasa puas sampai disitu, Veronica paham peredaran narkoba akan sulit diberantas, dan generasi mudalah yang selalu menjadi sasaran dalam peredaran obat terlarang ini. Hal tersebut memicu dirinya untuk membuat sebuah organisasi Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) pada 13 Agustus 1999 di Jakarta,  dimana organisasi non-profit dengan fokus di bidang pembangunan anak muda yang berangkat dari pencegahan dari penyalahgunaan narkoba dan HIV / AIDS.

Kini Veronica bersama YCAB, telah banyak mengadakan kampanye antinarkoba. Mereka terjun  ke sekolah-sekolah, perkantoran, pusat-pusat komunitas, pusat perbelanjaan, tempat ibadah, rumah sakit, bahkan sampai ke kepolisian dan melatih serta memberikan konseling kepada ratusan ribu pemuda Indonesia dengan cara modern sebagai upaya untuk memerangi penyalahgunaan narkoba di kalangan anak-anak jalanan, anak-anak yang kurang beruntung, dan dari lingkungan miskin di daerah kumuh di kota-kota besar Indonesia, agar penyampaian informasi yang diberikan mudah ditangkap sehingga pencegahan penyalahgunaan narkoba menjadi hal yang menarik bagi anak muda dan ikut berperan aktif demi mewujudkan Indonesia bersih dari narkoba.

Sama seperti Walikota Meksiko, Gorrostieta, Veronica mengaku, perjalanan misi sosial dan membangun YCAB hingga saat ini tidaklah mudah. Banyak halangan, cemooh, dan penolakan dari berbagai pihak, beberapa kali ia alami. Namun hal itu tak akan membuatnya menyerah untuk terus mewujudkan generasi muda yang sehat, bebas narkoba dan memiliki skill yang baik untuk masa depan mereka.

Hal-hal seperti diataslah yang bisa dilakukan kaum perempuan saat ini, karena perempuan adalah sosok yang luar biasa dan sangat berperan bagi lingkup rumah tangganya masing-masing dan bahkan lingkungan organisasinya masing-masing dengan sikap cinta dan kasih sayangnya dan memiliki keikhlasan serta kerelaan mengorbankan keinginan pribadi. Lalu karena keuletan dan kreatifitas perempuan dalam menghadapi kondisi yang sulit dan kemampuan perempuan berperan ganda dengan baik, terutama bagi anak-anak dan remaja.

Kita semua berharap semoga masih akan ada dan terus bertambah tokoh-tokoh perempuan seperti Ibu Alfonsina, Veronica Colondam dan Walikota Gorrostieta yang mempunyai hasrat dan kepedulian tinggi serta berani dalam memperjuangkan hak perempuan terutama dalam hal pencegahan penyalahgunaan narkoba. Memang tidak ada hal yang mudah, tetapi jika dibarengi dengan niat dan kerinduan besar, maka hal seperti itu akan bisa diwujudkan baik itu di lingkungan kecil sekalipun seperti lingkungan masyarakat bahkan sampai lingkungan besar. Sekaranglah saatnya generasi muda perempuan mencatatkan dirinya sebagai pelaku emansipasi yang mampu berdiri mengambil peran penting untuk membangun negeri tercinta bersih dari narkoba.

#stopnarkoba

Read 20081 times Last modified on Friday, 22 April 2016 08:27
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…